Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
DKI JakartaNews

Demo Dukung MBG di Monas: Emak emak Ngaku Dapat Rp100 Ribu dan Logistik Lapangan

417
×

Demo Dukung MBG di Monas: Emak emak Ngaku Dapat Rp100 Ribu dan Logistik Lapangan

Sebarkan artikel ini
Demo Dukung MBG di Monas: Emak emak Ngaku Dapat Rp100 Ribu dan Logistik Lapangan
banner 468x60

Jakarta, penasuara.com — Di saat gelombang skeptisisme dan aksi protes mahasiswa mendesak agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan, sebuah pemandangan kontras justru tersaji di jantung ibu kota. Senin (22/6/2026), kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, berubah menjadi panggung tandingan yang meriah. Ratusan warga turun ke jalan, menyuarakan pembelaan agar program andalan Presiden Prabowo Subianto ini tetap dipertahankan di tengah badai kontroversi.

Aksi yang berpusat di sepanjang Jalan Medan Merdeka Selatan ini menyajikan lanskap visual yang unik. Alih-alih hanya membawa spanduk tuntutan konvensional, massa—yang didominasi oleh kelompok ibu-ibu—tampil mencolok dengan pakaian putih dipadu kerudung merah menyala. Menariknya, mereka menggenggam peralatan dapur seperti wajan, panci, hingga saringan mi, menciptakan pemandangan teatrikal yang memicu perhatian para pengguna jalan.

Advertisment
banner 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Logistik Lapangan: Dari Saringan Mi hingga “Uang Saku”

Aksi demonstrasi ini tidak berjalan dengan tangan kosong. Di balik semangat yang menggebu, terselip cerita tentang distribusi logistik yang terorganisasi dengan rapi sebelum orasi dimulai.

Sejumlah peserta tampak semringah membawa pulang perabot rumah tangga baru. Tak hanya membawa pulang wajan dan panci, ketahanan fisik massa selama aksi juga ditopang oleh pembagian konsumsi berupa roti, buah-buahan, hingga susu kotak.

Baca juga :  Menolak Benalu Bangsa: Arogansi Aparatur Negara dalam Timbangan Moral dan Hukum

Fenomena “mobilisasi” ini dikonfirmasi secara terbuka oleh salah satu peserta aksi bernama Desy. Tanpa canggung, ia membeberkan adanya kompensasi finansial yang diterima peserta untuk menghadiri aksi tersebut.

“Ongkos ada lah buat jajan. Seratus (ribu rupiah) lah,” aku Desy jujur saat ditemui di sela-sela aksi di area demonstrasi, Senin (22/6/2026), sebagaimana dikutip dari laporan Tribunnews.com.

Harapan Nyata di Balik Kepulan Asap Dapur Rakyat

Meski aroma mobilisasi massa terasa kuat melalui bagi-bagi fasilitas dan uang saku, menyamaratakan seluruh peserta sebagai “massa bayaran” tentu akan mengaburkan realitas sosial yang sesungguhnya. Bagi sebagian ibu-ibu lainnya, kehadiran mereka di Monas didorong oleh rasa syukur yang tulus atas beban dapur yang diringankan oleh program MBG.

Yuyun, seorang warga Jakarta Timur, adalah salah satu potret penerima manfaat yang berdiri di barisan massa. Baginya, program MBG bukan sekadar komoditas politik, melainkan bantuan nyata bagi tumbuh kembang anaknya yang masih bersekolah.

“Semenjak ada program MBG, anak saya jadi makin gemuk, sehat, dan pintar di kelas. Harapannya program dari Pak Prabowo ini bisa jauh lebih bagus lagi dan terus meningkat,” tutur Yuyun penuh harap sambil memegang bunga mawar dan peralatan dapurnya.

Baca juga :  Setelah 7 Bulan Menunggu Upaya Nyata Harus Dihargai, Bukan di Ejek, Tapteng Juga Darurat Moral

Bagi Yuyun dan jutaan ibu lainnya di luar sana, program ini adalah jaring pengaman sosial yang secara langsung menyentuh pemenuhan gizi anak-anak mereka di sekolah.

Kemeriahan Budaya yang Memecah Jalan Protokol

Aksi dukungan ini sendiri terpantau terbagi di dua titik utama di sekitar Monas, yang sempat memicu kepadatan arus lalu lintas dari arah Monas menuju Gambir.

Kelompok pertama didominasi oleh barisan emak-emak pembawa alat dapur yang berkumpul tertib di depan kawasan IRTI Monas. Mereka berbaris rapi mengikuti komando dari atas mobil orator sembari membentangkan poster-poster dukungan.

Sementara itu, titik kedua di seberang BSI Tower diisi oleh kelompok yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Jakarta. Berbeda dengan kelompok pertama yang menonjolkan simbol domestik/dapur, aliansi ini memilih menyuntikkan elemen kebudayaan lokal Betawi untuk menghidupkan suasana. Kehadiran Ondel-Ondel, tabuhan Rebana, hingga lantunan musik Tanjidor riuh mengiringi kibaran bendera-bendera raksasa bergambar Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga :  Penggeledahan Cafe de'Clan: Pusaran Baru Penyelidikan Megakorupsi Asabri hingga Krakatau Steel

Refleksi: Dua Sisi Koin Program MBG

Aksi di Monas hari itu memperlihatkan dua sisi mata uang dari dinamika politik kebijakan publik di Indonesia. Di satu sisi, ada upaya mobilisasi sistematis yang memanfaatkan pembagian logistik dan insentif materiil untuk membentuk opini publik. Namun di sisi lain, ada jeritan harapan yang sangat riil dari para orang tua kelas pekerja yang merasa terbantu dengan adanya intervensi gizi gratis dari pemerintah.

Di tengah perdebatan anggaran dan efisiensi yang disuarakan oleh kelompok akademisi serta mahasiswa, suara-suara dari emak-emak di Monas—terlepas dari wajan gratis maupun uang jajan yang mereka terima—menjadi pengingat bahwa program MBG memiliki akar penerima manfaat yang siap pasang badan demi keberlanjutannya.

Catatan Redaksi

Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!