Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
MalukuNews

Peristiwa Memilukan: Guru Pecah Ketuban Saat Mengajar, Puskesmas Wonrely Dituding Tolak Bantu

2106
×

Peristiwa Memilukan: Guru Pecah Ketuban Saat Mengajar, Puskesmas Wonrely Dituding Tolak Bantu

Sebarkan artikel ini
Peristiwa Memilukan: Guru Pecah Ketuban Saat Mengajar, Puskesmas Wonrely Dituding Tolak Bantu
banner 468x60

Maluku, penasuara.com – Sebuah peristiwa yang sangat memilukan sekaligus memancing kemarahan terjadi di lingkungan pendidikan Kabupaten Maluku Barat Daya. Pada Rabu, (22/7/26)

Seorang guru berinisial YS yang sedang bertugas di SD Negeri 1 Pulau-Pulau Terselatan tiba-tiba mengalami pecah ketuban saat sedang berlangsung proses belajar mengajar di dalam kelas. Kondisi darurat ini menuntut penanganan medis secepat mungkin demi keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya.

Advertisment
banner 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Seketika itu juga, pihak sekolah segera berupaya menghubungi Puskesmas Wonrely untuk meminta bantuan ambulans guna mengantar guru tersebut ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Namun respons yang diterima justru sangat mengejutkan dan memprihatinkan: pihak Puskesmas Wonrely dilaporkan menolak mengirimkan ambulans dengan alasan yang terdengar tidak masuk akal, yaitu tidak ada sopir yang bertugas serta kendaraan kehabisan bahan bakar.

Baca juga :  Kapolres Mamasa Hadiri Rakor dan Evaluasi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2026

Mendengar penjelasan tersebut, Kepala Sekolah SD Negeri 1 Pulau-Pulau Terselatan, Maria Elisabeth Rainuny, S.Pd., menyampaikan kekecewaan dan penyesalan yang sangat mendalam. Baginya, alasan tersebut sungguh tidak pantas diucapkan oleh pihak yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan, terlebih ketika menyangkut nyawa manusia yang sedang dalam bahaya.

“Kami sangat menyesalkan dan kecewa berat atas pernyataan oknum dari Puskesmas Wonrely tersebut. Bagaimana mungkin hal sesulit dan sepenting ini bisa diabaikan begitu saja? Apakah nyawa seseorang hanya dianggap sepele di tengah keterbatasan fasilitas?” ujar Maria Elisabeth dengan nada haru sekaligus marah.

Pihak sekolah mengaku sangat khawatir dan takut jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap guru yang segera akan melahirkan tersebut akibat keterlambatan pertolongan. Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan besar di benak banyak pihak: Apakah keterbatasan anggaran atau kelalaian manajemen operasional hingga nyawa manusia harus diabaikan dan dikesampingkan?

Kepala Sekolah berharap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Barat Daya segera merespons dan menindaklanjuti peristiwa serius ini tanpa menunda lagi. “Ini adalah urusan hidup dan mati. Kami menuntut ada kejelasan dan tanggung jawab dari pihak berwenang, agar kelalaian semacam ini tidak terulang kembali dan masyarakat dapat memperoleh jaminan pelayanan darurat yang layak,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Puskesmas Wonrely maupun Dinas Kesehatan terkait kebenaran informasi ini dan langkah penanganan selanjutnya.

Catatan Redaksi

Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!