Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
MalukuNews

Ketika Jenderal TNI AD Mengalahkan Teknologi Asing:Kisah Brilian Brigjen JM Pattiasina, Putra Maluku Pendiri Pertamina yang Dilupakan Sejarah

1024
×

Ketika Jenderal TNI AD Mengalahkan Teknologi Asing:Kisah Brilian Brigjen JM Pattiasina, Putra Maluku Pendiri Pertamina yang Dilupakan Sejarah

Sebarkan artikel ini
Ketika Jenderal TNI AD Mengalahkan Teknologi Asing:Kisah Brilian Brigjen JM Pattiasina, Putra Maluku Pendiri Pertamina yang Dilupakan Sejarah
banner 468x60

 

Maluku,penasuara.com-Di tengah deretan nama-nama besar dalam sejarah perminyakan Indonesia, tersembunyi satu sosok luar biasa yang nyaris dilupakan. Ia adalah Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Johannes Marcus Pattiasina, putra Maluku yang bukan hanya seorang perwira militer, melainkan juga teknisi minyak jenius — orang yang membuktikan bahwa kecerdasan anak bangsa mampu mengalahkan teknologi canggih dari luar negeri.

Advertisment
banner 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Tahun 1958: Sumur Minyak Mengamuk di Aceh Tamiang

Tahun 1958, Rantau Aceh Tamiang. Sebuah sumur minyak eksplorasi tiba-tiba kehilangan kendali. Tekanan gas dan minyak menyembur deras dari perut bumi, berubah menjadi amukan raksasa. Kobaran api raksasa menjulang tinggi ke langit, menghitamkan awan Sumatera Utara. Sumur itu blow out — dan api tak kunjung padam.

Tiga bulan lamanya neraka membara. Segala upaya memadamkan sia-sia. Skenario terburuk dalam industri perminyakan menjadi kenyataan. Kepanikan melanda. Satu-satunya harapan yang tersisa: memanggil spesialis pemadam sumur dari Kanada.

Dilema: Teknologi Asing dengan Harga Fantastis

Tim spesialis Kanada tiba dengan peralatan canggih dan penuh keyakinan. Namun tawaran mereka seperti pisau bermata dua: satu juta Dolar AS per hari, dengan estimasi waktu 15–30 hari — belum termasuk biaya peralatan tambahan. Angka itu sungguh fantastis di masa kas negara masih terkuras, di saat PN Permina — cikal bakal Pertamina — baru lahir dan belum memiliki kekuatan finansial.

Baca juga :  Bidpropam Polda Jateng Tahan Oknum Polisi Polres Tegal Kota, Dugaan Penganiayaan Berulang Disidik Tegas

Menyetujui berarti menggadaikan masa depan perusahaan. Menolak berarti membiarkan sumur terbakar dan kehilangan segalanya. Di tengah dilema mematikan inilah, satu orang berdiri tegak: Brigadir Jenderal TNI Johannes Marcus Pattiasina.

Pattiasina: Teknisi Minyak yang Menjadi Jenderal

Pattiasina bukan sembarang orang. Ia adalah teknisi minyak yang kemudian menjadi perwira militer, bekas komandan Zeni Pioner yang ditempa dalam perang lima hari lima malam di Palembang. Sebelum kemerdekaan, ia adalah salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi tinggi di BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij), perusahaan minyak Belanda. Di masa pendudukan Jepang, ia berani memperbaiki kilang yang dihancurkan Belanda tanpa bantuan asing — meski harus menanggung siksaan yang mematahkan tulang bahunya.

Ia tahu betul satu hal: kekayaan minyak Indonesia harus dikelola oleh putra-putri Indonesia sendiri.

Menolak Teknologi Canggih, Memilih Kecerdikan Sederhana

Pattiasina menatap kobaran api yang telah membakar tiga bulan itu — dan menolak tawaran perusahaan Kanada. Keputusan itu dianggap gila oleh banyak orang. Namun ia kembali pada akar pengalamannya, pada pemahaman mendalam tentang prinsip segitiga api: bahan bakar, panas, dan oksigen. Hilangkan satu, api mati.

Ia mengambil keputusan berani: menggunakan dinamit, bukan untuk meledakkan sumur, melainkan menciptakan ledakan terkendali yang membentuk ruang hampa udara di kedalaman tertentu. Ledakan itu akan menghabiskan oksigen, mematikan api, sekaligus meruntuhkan formasi batuan di sekitar lubang bor untuk menyumbat aliran minyak. Sederhana dalam konsep, namun membutuhkan perhitungan matang dan keberanian luar biasa.

Baca juga :  Reses Tahap III 2026, Irwansyah Siregar Tampung Aspirasi Warga Air Batu dan Sei Dadap

Dinamit dimasukkan ke dalam lubang sumur yang mengamuk. Sebagai langkah pengamanan, ia memerintahkan penutupan dengan bucket excavator agar tekanan ledakan mengarah ke dalam sumur, bukan ke luar. Operasi ini hanya boleh dilakukan sekali. Kesalahan berarti bencana.

BOOM! Sejarah Berubah Detik Itu Juga

Komando diberikan. BOOOOM! Sebuah dentuman menggelegar, lebih dahsyat dari amukan sumur itu sendiri. Tanah bergetar, asap membubung tinggi. Dunia sejenak terasa diam. Ketika asap menipis, pemandangan yang dilihat semua orang membuat mereka takjub: sumur yang mengamuk selama tiga bulan kini terdiam. Sunyi. Api padam. Aliran gas tersumbat.

Bukan teknologi canggih Kanada yang menyelamatkan hari itu. Bukan satu juta dolar per hari yang memadamkan api. Yang menyelamatkan adalah keberanian dan kecerdasan seorang anak bangsa yang memahami medan perang sekaligus perut bumi — dalam bahasa pengorbanan dan cinta tanah air.

Sang Jantung Tekis yang Dilupakan Sejarah

Kemenangan di Aceh Tamiang hanyalah satu babak. Bersama Ibnu Sutowo, Pattiasina membangun Pertamina dari puing-puing sisa perang, dari besi tua berkarat di tengah ilalang. Di bawah kepemimpinan teknisnya, Pertamina bangkit. Pada 25 Mei 1958, Indonesia mengirimkan 1.700 ton minyak mentah ke Jepang — penanda kebangkitan Pertamina sebagai kekuatan ekonomi bangsa.

Namun sejarah menyimpan ironi yang menyakitkan. Narasi populer hampir selalu memusat pada satu nama: Ibnu Sutowo, sang Dirut yang karismatik. Sementara Pattiasina — sang jantung teknis, figur introvert yang lebih nyaman di lapangan daripada di panggung publik — nyaris dilupakan. Padahal tanpa kecerdikannya menjinakkan api di Aceh Tamiang, tanpa ketekunannya membangun kilang dari puing, Pertamina mungkin tak akan pernah menjadi raksasa energi yang kita kenal sekarang.

Baca juga :  Dari Dinding Rapuh Menjadi Hunian Layak, Program RTLH Ubah Hidup Kuli Bangunan di Kudus

Penghormatan untuk Sang Putra Maluku

Kisah Brigadir Jenderal JM Pattiasina adalah pengingat abadi: kedaulatan energi bukan hanya soal cadangan minyak di bawah tanah, tetapi soal integritas, kecerdasan, dan keberanian bertindak. Ia membuktikan bahwa di hadapan pemahaman mendalam dan cinta tanah air, teknologi asing yang paling canggih pun bisa dikalahkan.

Mari kita kenang nama ini: Johannes Marcus Pattiasina. Putra Maluku, jenderal TNI, teknisi jenius, dan salah satu pendiri Pertamina — orang yang membuktikan bahwa ketika anak bangsa berani berpikir dan bertindak, tidak ada api yang tak bisa dipadamkan, tidak ada kekayaan yang tak bisa dikuasai untuk kemakmuran rakyat sendiri.

Catatan Redaksi

Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!