Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Jawa TengahNews

Kemarau Bukan Musibah, Rencek Hutan Jati Jadi Napas Ekonomi Warga Cibunar Tegal

88
×

Kemarau Bukan Musibah, Rencek Hutan Jati Jadi Napas Ekonomi Warga Cibunar Tegal

Sebarkan artikel ini
Kemarau Bukan Musibah, Rencek Hutan Jati Jadi Napas Ekonomi Warga Cibunar Tegal
banner 468x60

Tegal, penasuara.com – Bagi sebagian masyarakat, musim kemarau identik dengan tanah yang mengering, sawah kehilangan sumber air, serta ancaman menurunnya hasil pertanian. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Desa Cibunar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Di tengah hamparan hutan jati yang mengelilingi desa, musim kemarau justru menjadi momentum bagi sebagian warga untuk mengais rezeki.

Advertisment
banner 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Ranting-ranting kering atau yang biasa disebut rencek dikumpulkan dari kawasan hutan dan dimanfaatkan sebagai kayu bakar yang kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak pagi sebelum matahari meninggi, para pencari rencek mulai menyusuri kawasan hutan. Dengan membawa karung dan peralatan sederhana, mereka mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan, kemudian mengikatnya menjadi beberapa bagian untuk dibawa pulang.

Sebagian rencek tersebut kemudian ditumpuk dan diangkut menggunakan sepeda motor untuk dijual. Meski terlihat sederhana, aktivitas tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan bagi sejumlah keluarga di Desa Cibunar.

Baca juga :  Ledakan Bom Rakitan Guncang MAN 3 Padang, Densus 88 Amankan Seorang Pelajar

Desa Cibunar sendiri merupakan wilayah yang dikelilingi kawasan hutan jati. Kondisi geografis tersebut membuat kehidupan masyarakat setempat tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian maupun berbagai aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan kawasan hutan.

Selain mengumpulkan rencek, sebagian warga memanfaatkan lahan melalui sistem tumpangsari dengan menanam tanaman palawija. Ada pula masyarakat yang bekerja sebagai buruh bongkar muat kayu Perhutani hingga menjalankan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Kepala Desa Cibunar, Junedi, mengatakan kehidupan masyarakat di wilayahnya selama ini berjalan harmonis. Menurutnya, warga memanfaatkan berbagai potensi yang ada secara bijak untuk menopang perekonomian keluarga.

Baca juga :  Aktivis Paralegal Prihatin Dengan kondisi jalan Sukamaju (KKU)

“Desa kami aman, tenteram, dan damai. Banyak warga memanfaatkan hutan melalui tumpangsari maupun mengumpulkan rencek untuk dijual sebagai kayu bakar. Ada juga yang bekerja membantu kegiatan Perhutani,” ujarnya.

Menurut Junedi, pilihan mata pencaharian masyarakat Cibunar cukup beragam. Sebagian warga memilih meninggalkan desa untuk mencari penghidupan di kota-kota besar. Ada pula yang bekerja sebagai pelaut di perairan luar negeri maupun menekuni usaha perdagangan.

Sementara bagi masyarakat yang tetap tinggal di desa, keberadaan kawasan hutan menjadi salah satu bagian penting dalam menopang kehidupan ekonomi mereka.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak selalu berarti kesulitan. Di tengah kondisi alam yang kering, masyarakat Cibunar mampu membaca peluang dan mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sumber penghasilan.

Ranting-ranting kering yang berserakan di bawah tegakan jati, bagi sebagian orang mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari musim kemarau. Namun bagi warga Cibunar, rencek adalah bagian dari ikhtiar—sederhana, tetapi berarti—untuk menjaga dapur keluarga tetap mengepul.

Baca juga :  Rapai Tuha Nagan Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Di balik kepulan asap dapur dan deru sepeda motor pengangkut rencek, tersimpan potret ketangguhan masyarakat desa yang terus bertahan dengan memanfaatkan potensi alam secara bijak, sembari menjaga harmoni kehidupan di tengah kawasan hutan jati.

Catatan Redaksi

Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!