Merauke, penasuara.com — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Merauke pada tahun 2026 ini tidak hanya diisi dengan euforia perayaan, tetapi juga menjadi medium penyampaian kritik sosial. Sejumlah pelajar memanfaatkan ajang karnaval kemerdekaan untuk menampilkan aksi teatrikal yang menyoroti isu korupsi dan dinamika politik di Tanah Air.
Dalam pawai budaya tersebut, salah satu kelompok peserta menarik perhatian publik dengan menampilkan parodi tokoh politik. Terdapat peserta yang melakukan cosplay (mengenakan kostum/topeng menyerupai) Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Tepat di belakang mereka, mengekor barisan peserta yang mengenakan atribut menyerupai tikus—sebuah simbol yang secara universal kerap diasosiasikan dengan pelaku tindak pidana korupsi. Rombongan teatrikal ini tampak mengarak sebuah replika emas yang menyimbolkan berat 74 kilogram.
Pesan satire yang dibawa oleh para pelajar tersebut dipertegas dengan sejumlah poster dan spanduk. Salah satu poster yang dibawa bersama replika emas tersebut bertuliskan, “Hasil kerja elit, 74 kilogram emas.”
Selain itu, terdapat pula atribut sindiran lain yang menyinggung proses penegakan hukum di Indonesia. Tulisan “Nangis di sidang, nggak menghapus barang bukti” turut dipamerkan, yang merepresentasikan respons kritis masyarakat terhadap fenomena persidangan kasus-kasus korupsi yang kerap terjadi.
Aksi kreativitas para pelajar ini merupakan bentuk representasi dari kebebasan berekspresi di ruang publik. Melalui medium karnaval, generasi muda di Merauke berupaya menyuarakan keresahan mereka terhadap praktik penyalahgunaan wewenang, sekaligus memberikan pesan moral bahwa kemerdekaan harus dimaknai dengan tata kelola negara yang bersih.
Meski memuat kritik sosial dan politik yang cukup tajam, penyampaian pendapat melalui seni teatrikal ini berlangsung secara damai. Karnaval kemerdekaan di Merauke secara keseluruhan tetap berjalan tertib dan menjadi hiburan sekaligus ruang refleksi bagi masyarakat setempat yang memadati rute pawai.
Ringkasan Peristiwa:
- Karnaval kemerdekaan di Merauke diwarnai aksi penyampaian pendapat melalui seni teatrikal oleh sejumlah pelajar.
- Peserta menampilkan parodi tokoh politik dan rombongan berbalut kostum “tikus” sebagai simbol koruptor.
- Atribut sindiran terkait kasus korupsi dan penegakan hukum turut dipamerkan dalam pawai yang berlangsung tertib.
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















