Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
MalukuNews

Prabowo Benar,Londo Ireng itu Nyata! Blok Masela Harus Menjadi poros Energi Dunia,Bukan Sekedar Ekstraksi Asing

163
×

Prabowo Benar,Londo Ireng itu Nyata! Blok Masela Harus Menjadi poros Energi Dunia,Bukan Sekedar Ekstraksi Asing

Sebarkan artikel ini
Prabowo Benar,Londo Ireng itu Nyata! Blok Masela Harus Menjadi poros Energi Dunia,Bukan Sekedar Ekstraksi Asing
banner 468x60

 

Maluku,penasuara.com-Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang adanya “Londo Ireng” atau penjajah berwajah gelap ternyata bukan sekadar ungkapan semata, melainkan sebuah kenyataan yang terus dirasakan hingga kini oleh masyarakat Maluku. Sejak masa lampau, kekayaan alam negeri ini terus dirampok dan dinikmati oleh pihak asing — mulai dari cengkih, pala, nikel, hingga nilai oksigen dari hutan yang kini pun mulai diperdagangkan. Kini, giliran kekayaan gas alam di Blok Masela pun kembali diincar oleh pihak asing. Jika tidak diwaspadai, sejarah kelam akan terulang kembali: Maluku tetap kaya raya di bawah tanah, namun rakyatnya tetap miskin di atas tanah.

Advertisment
banner 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Sejarah Tak Pernah Berbohong: Kekayaan di Tangan Sendiri, Tapi Rakyat Tak Menikmati

Ada ironi sejarah yang begitu menyakitkan namun tetap menjadi kenyataan. Pada abad ke-17, Pulau Banda menjadi pusat perhatian dunia — seluruh bangsa berlayar separuh bumi demi biji pala yang hanya tumbuh di sana. Namun penjajah datang, menguasai, dan rakyat Maluku hanya menjadi penonton atas kekayaan sendiri. Cengkih dan pala dinikmati Belanda, ikan diambil armada asing, emas dan tembaga di Pulau Wetar meninggalkan lubang menganga tanpa memberi kesejahteraan nyata bagi warga, sementara nikel di Halmahera mengalir deras ke luar negeri hanya menyisakan debu dan kerusakan lingkungan. Bahkan udara bersih dan oksigen dari hutan pun kini mulai diperdagangkan sebagai kredit karbon oleh entitas asing.

Baca juga :  Komisi X DPR RI Bongkar Akar Persoalan Pendidikan Nasional: Ego Sektoral hingga UKT Tinggi Dinilai Hambat Masa Depan Generasi Bangsa

Sejarah berbisik: jangan biarkan kekayaan terbesar kita — energi — kembali mengalir ke negeri orang. Dan bisikan itu kini berubah menjadi guntur dari Laut Arafura, di mana Blok Masela menyimpan 18,54 Triliun Kaki Kubik (TCF) gas alam, cadangan terbesar di kawasan ini yang mampu mengubah peta geopolitik energi dunia. Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, menyebut ini sebagai momen kembalinya sejarah — namun pertanyaannya: akankah kita kembali menjadi penonton, atau kali ini kita menjadi penentu arah?

Maluku Pemilik Cadangan Terbesar, Namun Siapa yang Akan Menguasainya?

Data cadangan gas di kawasan ini berbicara sendiri:

– Blok Masela (Indonesia): 18,54 TCF — sang raksasa kawasan

– Blok Ichthys (Australia): 12,8 TCF

– Blok Greater Sunrise (Timor Leste/Australia): 8,35 TCF

– Blok Barossa (Australia): 5,1 TCF

– Blok Bayu Undan (Timor Leste): 3,4 TCF (tidak aktif)

 

Secara angka, Indonesia adalah pemilik cadangan terbesar — kita adalah gajah di tengah kawanan kuda. Namun peringatan tajam datang: Darwin, Australia, jauh lebih siap dan matang untuk mengambil alih peran sebagai pusat LNG kawasan. Karena siapa yang memiliki infrastruktur dan ekosistem, dialah yang menang — bukan sekadar pemilik molekul gas. Jika Indonesia gagal membangun ekosistem hilirisasi di sekitar Laut Arafura, Blok Masela tidak akan melahirkan kemakmuran, melainkan hanya menciptakan “wilayah enklave” — kilang beroperasi, gas mengalir ke kapal asing, sementara masyarakat sekitar hanya mendapat remah-remah CSR. Inilah wajah kolonialisme modern yang dimaksud Prabowo: Londo Ireng bukan hanya di jalanan, tetapi bisa berada dalam sistem kekuasaan, bahkan bersembunyi di sekitar pusat kekuasaan.

Baca juga :  Menanti Groundbreaking PSN Masela, Forkopimda Maluku Mengecek Venue Yang Digunakan Untuk acara

Solusi: KEK Berbasis Energi Terintegrasi — Maluku Sebagai Poros Energi Dunia

Jalan keluar yang ditawarkan adalah pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Berbasis Energi Terintegrasi di Wilayah Maluku. Bukan KEK biasa yang hanya menjual tanah murah, melainkan sebuah konsep besar di mana setiap kabupaten di Maluku memiliki peran spesifik dalam satu kesatuan industrialisasi. Visi ini tidak berhenti pada migas, tetapi menyatukan potensi minyak dan gas di Bula/Non-Bula, Blok Binaya, hingga kobalt dan logam tanah jarang di wilayah Teon Nila Sarua. Gas dari Masela menjadi energi untuk mengolah nikel, kobalt, dan logam tanah jarang — semuanya dilakukan di Maluku, oleh Maluku, untuk kemakmuran Maluku dan Indonesia.

Kegagalan masa lalu menjadi pelajaran berharga — seperti wacana Poros Selat Malaka pada era 1970-an yang akhirnya justru membuat Singapura menjadi pusat kilang minyak dunia, sementara Indonesia yang kaya minyak justru mengimpor BBM dari sana. Jangan sampai Darwin menjadi “Singapura-nya Indonesia Timur.” .kian pula, pola pikir ekspor bahan mentah — seperti zaman VOC ketika pala dan cengkih diekspor mentah — kini terulang dengan gas dan nikel. Gas tidak boleh hanya dicairkan dan dijual; harus ada porsi yang dilindungi undang-undang untuk industri petrokimia, pembangkit listrik, dan industri turunan lainnya di dalam negeri.

Baca juga :  Advokat Rikha Permatasari Hadiri Sidang Perdana Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Frizon Parsaoran Sitanggang di Pengadilan Negeri Surabaya

Blok Masela: Kesempatan Terakhir untuk Membalikkan Sejarah

Pada akhirnya, ini adalah perjuangan untuk mengubah “kutukan sumber daya” menjadi “berkah sumber daya” melalui industrialisasi yang kuat. Kita tidak boleh selamanya menjadi bangsa pelayan yang hanya menyediakan bahan mentah untuk pabrik dunia. Blok Masela adalah kesempatan emas untuk menjadikan Maluku sebagai pusat gravitasi industri perminyakan dan energi masa depan dunia.

Kegelapan masa lalu, di mana cengkih, pala, nikel, ikan, dan oksigen kita dinikmati pihak lain, harus diakhiri. Blok Masela harus menjadi monumen kebangkitan — sebuah deklarasi kepada dunia bahwa kali ini, Maluku dan Indonesia tidak akan lagi kehilangan mahkota yang Tuhan letakkan di tanah kita. Ini bukan lagi soal ekonomi semata, ini adalah perjuangan kedaulatan dan kehormatan bangsa. Maluku harus menjadi poros energi dunia — atau kita akan tetap menjadi bangsa yang miskin di tengah kekayaan selamanya.

Catatan Redaksi

Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!