Tegal, penasuara.com – Kondisi fisik bangunan Blok C Pasar Pagi Kota Tegal kian memprihatinkan. Retakan terlihat di sejumlah bagian dinding, sementara struktur bangunan di lantai dua tampak mengalami kemiringan yang semakin mengkhawatirkan.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran serius terhadap aspek keselamatan, khususnya bagi para pedagang dan masyarakat yang setiap hari beraktivitas di kawasan pasar tradisional terbesar di Kota Bahari tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, aktivitas perdagangan di lantai atas telah dikosongkan. Kegiatan jual beli kini hanya berlangsung secara terbatas di lantai dasar.
Kendati demikian, kondisi bangunan yang terus menunjukkan tanda-tanda kerusakan membuat rasa aman para pedagang belum sepenuhnya terjamin.
Bagi sebagian pedagang, Pasar Pagi bukan sekadar tempat mencari nafkah. Bertahun-tahun mereka menggantungkan kehidupan keluarga dari aktivitas perdagangan di tempat tersebut. Karena itu, meninggalkan lokasi bukan perkara mudah, meski ancaman keselamatan terus menghantui.
Salah satunya dirasakan Hj Rukoyah, pedagang kelapa yang mengaku telah berjualan sejak awal Pasar Pagi berdiri.
Rukoyah mengatakan, dirinya bersama pedagang lain harus menghadapi kondisi bangunan yang dari waktu ke waktu dinilai semakin mengkhawatirkan.
Namun, kebutuhan untuk tetap mencari nafkah membuatnya memilih bertahan sembari berharap ada penanganan serius dari pihak terkait.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan, material bangunan dari bagian atas lapaknya pernah mengalami keruntuhan dan jatuh hingga ke lantai dasar.
Beruntung, saat material tersebut ambrol, Rukoyah sedang tidak berada di lokasi sehingga tidak menimbulkan korban.
“Ya waswas, tapi mau bagaimana lagi. Pelanggan juga sudah tahunya di sini,” ujar Hj Rukoyah.
Pengakuan tersebut menggambarkan dilema yang dihadapi para pedagang. Di satu sisi, keselamatan menjadi persoalan utama. Di sisi lain, pasar merupakan sumber penghasilan yang sulit mereka tinggalkan begitu saja.
Kondisi Blok C Pasar Pagi ini pun menjadi perhatian yang tidak semestinya dipandang sebelah mata.
Retakan dinding, struktur yang terlihat miring hingga material yang pernah ambrol merupakan tanda yang perlu mendapat pemeriksaan teknis secara menyeluruh.
Keselamatan pedagang dan masyarakat seharusnya menjadi prioritas. Pemeriksaan konstruksi oleh pihak berkompeten diperlukan untuk memastikan sejauh mana tingkat kerusakan bangunan serta langkah penanganan yang paling tepat.
Sebab, jangan sampai kewaspadaan baru muncul setelah terjadi musibah. Pasar boleh menjadi tempat menggantungkan harapan dan rezeki, tetapi keselamatan manusia tetap harus menjadi pertimbangan utama.
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















