Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Jawa TengahNews

Harga Garam Anjlok di Brebes, Petani Menjerit

118
×

Harga Garam Anjlok di Brebes, Petani Menjerit

Sebarkan artikel ini
Harga Garam Anjlok di Brebes, Petani Menjerit
banner 468x60

Brebes, penasuara.com — Kabar kurang menggembirakan datang dari sentra produksi garam di Kabupaten Brebes. Sejumlah petani garam mengeluhkan harga komoditas mereka yang terus merosot dalam beberapa pekan terakhir.

Di tingkat petani, garam kini hanya dihargai sekitar Rp40.000 per karung dengan berat mencapai 55 kilogram. Kondisi tersebut membuat petani harus menghadapi tekanan ekonomi di tengah biaya produksi dan kebutuhan pengelolaan tambak yang tetap berjalan.

Advertisment
banner 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Petani garam asal Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Hasan Firdaus, mengatakan penurunan harga terjadi secara bertahap, bahkan nyaris setiap hari.

“Sebelumnya harga masih Rp70 ribu per karung, lalu turun menjadi Rp60 ribu, Rp55 ribu, Rp50 ribu, dan sekarang tinggal Rp40 ribu. Dan turunnya setiap hari,” ungkap Hasan.

Baca juga :  Kapolda Sulbar: Menanam Pohon Setiap Kenaikan Pangkat Adalah Sedekah Jariyah Yang Abadi

Menurutnya, penurunan harga tersebut dinilai tidak lazim jika melihat kondisi persediaan garam di wilayah Brebes. Ia menyebut gudang penyimpanan garam saat ini masih dalam kondisi kosong, sementara produksi petani belum mencapai puncaknya.

“Kalau melihat kondisi sekarang, produksi garam belum melimpah. Sebagian besar petani bahkan diperkirakan baru memasuki masa panen pada pertengahan Agustus 2026,” ujarnya.

Kondisi itu memunculkan tanda tanya di kalangan petani. Sebab, ketika produksi belum melimpah dan stok gudang disebut masih terbatas, harga garam justru terus mengalami penurunan.

Baca juga :  38 Gunungan Hasil Bumi Meriahkan Ruwat Bumi Cikendung, Ribuan Warga Padati Lereng Gunung Slamet

Bagi petani, harga Rp40.000 per karung dengan berat 55 kilogram dinilai semakin menekan. Terlebih, hasil panen garam merupakan salah satu sumber penghasilan utama bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

Petani berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat segera turun tangan untuk mengetahui penyebab anjloknya harga serta memastikan mekanisme tata niaga garam berjalan secara sehat dan berpihak pada keberlangsungan petani.

Petani juga berharap ada langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga, sehingga hasil produksi mereka tidak jatuh terlalu rendah dan kerja keras selama musim produksi tetap memberikan nilai ekonomi yang layak.

Baca juga :  Warga Setempat Dan Para Petani Sangat Gembira Dengan Adanya Proyek Turap Saluran Air  ‎

Jika tren penurunan harga terus berlangsung hingga memasuki puncak panen, petani khawatir kondisi tersebut justru semakin memperlemah posisi mereka di tengah rantai perdagangan garam.

Catatan Redaksi

Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!