Maluku,penasuara.com-Ancaman menggema di balik mega proyek gas nasional Blok Masela. Ruben Kelabora, tokoh adat sekaligus Sekretaris Jenderal Perkumpulan Masyarakat Kepulauan Babar (PEMASKEBAR), angkat bicara dengan nada tegas bak petir di siang bolong. Pria yang juga merupakan Tokoh Masyarakat Adat Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) asal Pulau Marsela ini mengeluarkan peringatan keras yang berpotensi menghantam rencana peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dijadwalkan pada akhir Juni-Juli 2026 .
“Kami, masyarakat adat Pulau Marsela, adalah TUAN RUMAH yang sah untuk Blok Migas Abadi Masela ini!” seru Kelabora dengan lantang. Ia menuntut keterlibatan pihaknya dan Pemerintah Daerah MBD dalam setiap prosesi sakral, terutama saat groundbreaking di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT). Bagi Kelabora, ini bukan sekadar formalitas, melainkan harga diri dan pengakuan atas nama pulau leluhur mereka—Marsela, yang kini melegenda sebagai lokasi ladang gas raksasa .
“Mengapa kami harus dihadirkan? Karena nomenklatur yang dipakai adalah nama pulau kami!” tegasnya. “Kami adalah daerah penghasil sekaligus daerah terdampak. Jika Pemerintah daerah MBD dan tokoh adat Marsela tidak dilibatkan sebagai Tuan Rumah, kami menyatakan keberatan yang sekeras-kerasnya!” .
Suara lantang ini bukan tanpa konsekuensi. Dalam pernyataan eksklusifnya, Ruben Kelabora mengirimkan sinyal ancaman yang mencekam: Jika aspirasi ini diabaikan oleh Pemprov Maluku, Pempus, Kementerian SDM, SKK Migas, hingga operator raksasa Jepang, INPEX, maka pihaknya akan mengambil langkah ekstrim .
“Kami akan menyatakan sikap dengan memboikot seluruh kerja Blok Migas Abadi Masela,” ancamnya. “Cara kami? Kami akan melakukan upacara ritual adat sakti untuk menghilangkan dan melenyapkan GAZ ABADI yang ada di perut bumi kandungan Pulau Marsela!” ujarnya, menggetarkan .
Ancaman “ritual adat untuk melenyapkan gas” ini jelas menjadi bola panas bagi pemerintah dan investor. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten KKT dan aparat keamanan terlihat terus mematangkan persiapan, bahkan menggelar rapat maraton untuk menyambut rencana kunjungan Presiden RI . Namun, Kelabora meminta semua pihak untuk menahan diri dan membatalkan agenda groundbreaking hingga ada keputusan bersama yang melibatkan dirinya sebagai Tuan Rumah.
“Ini adalah harapan kami. Kami tunggu respons!” pungkasnya, memberi jeda bagi semua pihak sebelum badai benar-benar meletus.
Ancaman “Ritual Sakti” Hantam Proyek Masela: Tuan Rumah Pulau Marsela Minta Groundbreaking Dibatalkan!
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















