Ogan Ilir, penasuara.com – Jagat maya kembali heboh. Sebuah tayangan video yang memperlihatkan Arhandi (akrab disapa Dunio), seorang tokoh masyarakat senior asal Kabupaten Ogan Ilir, menyita perhatian publik. Berdiri langsung di tengah hamparan perkebunan tebu Desa Sri Bandung, ia melontarkan kritik tajam yang menyasar isu kesejahteraan buruh hingga kewajiban finansial perusahaan.
Berikut adalah poin-poin utama dari sorotan tajam yang menjadi perbincangan hangat di masyarakat:
Upah Rp30 Ribu yang Dinilai Tak Manusiawi
Dalam rekaman yang beredar luas tersebut, Arhandi secara khusus menyoroti nasib para pekerja harian lepas, yang mayoritasnya adalah kalangan ibu-ibu. Ia mengungkapkan keprihatinannya karena hingga saat ini, para buruh tersebut kabarnya hanya diupah sekitar Rp30.000 per hari.
Angka ini dinilai sangat tidak masuk akal dan tertinggal jauh dari inflasi serta lonjakan harga kebutuhan pokok saat ini.
- Beban Hidup vs Penghasilan: Arhandi menegaskan bahwa biaya hidup terus meroket setiap tahunnya. Sangat tidak adil jika para buruh perempuan ini—yang harus bersusah payah membawa bekal makanan dan air dari rumah demi menghemat pengeluaran—tetap digaji dengan nominal yang stagnan selama puluhan tahun.
- Tuntutan Kesejahteraan: “Kesejahteraan pekerja seharusnya ikut tumbuh seiring berkembangnya perusahaan,” tegas Arhandi. Ia mempertanyakan bagaimana para buruh bisa menghidupi keluarga mereka dengan upah yang sangat minim tersebut.
Sentil Dugaan Tunggakan Pajak Rp800 Miliar
Bukan sekadar urusan perut buruh, Arhandi juga melempar isu yang tak kalah mengejutkan. Ia menyinggung adanya dugaan tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kepada Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir yang nilainya sangat fantastis, yakni disebut-sebut mencapai Rp800 miliar.
Menurutnya, jika kewajiban bernilai raksasa ini benar adanya dan segera dilunasi, dampaknya akan sangat luar biasa bagi pembangunan daerah, terutama untuk memperbaiki infrastruktur yang kondisinya memprihatinkan.
“Jalan-jalan itu merupakan urat nadi masyarakat. Ketika rusak, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan ikut terganggu.” — Arhandi
Ia merujuk langsung pada rusaknya akses jalan vital warga yang menghubungkan kawasan perkebunan dengan beberapa desa, seperti Desa Talang Tengah, Bangun Jaya, dan Tanjung Tambak, yang kerap hancur parah dan menghambat mobilitas warga saat musim penghujan tiba.
Menanti Transparansi dan Klarifikasi Resmi
Pernyataan berani dari tokoh Ogan Ilir ini langsung memantik reaksi dan dukungan dari warganet serta masyarakat setempat. Publik kini mendesak adanya keterbukaan informasi.
- Untuk Perusahaan: Diharapkan segera menunjukkan bentuk tanggung jawab sosial yang nyata (CSR), memperbaiki standar upah buruh, dan menunaikan segala kewajiban pajaknya sesuai undang-undang yang berlaku.
- Untuk Pemerintah Daerah: Dituntut untuk segera memberikan klarifikasi atau menindaklanjuti klaim tunggakan ratusan miliar tersebut secara transparan agar tidak menjadi bola liar di tengah masyarakat.
Kehadiran korporasi besar di suatu daerah sejatinya harus diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh warga sekitar, bukan hanya dari tingginya angka produksi. Jika tudingan dalam video tersebut terbukti benar, langkah penyelesaian yang tegas harus segera diambil. Sebaliknya, jika ada kekeliruan informasi, klarifikasi publik wajib dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















