Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Jawa BaratNews

Alarm 2050: Eksploitasi Industri dan “Lampu Merah” Air Tanah di Cimahi Selatan

121
×

Alarm 2050: Eksploitasi Industri dan “Lampu Merah” Air Tanah di Cimahi Selatan

Sebarkan artikel ini
Ancaman krisis air ini membayangi setidaknya 312 Rukun Warga (RW) yang tersebar di seluruh kelurahan.
Ancaman krisis air ini membayangi setidaknya 312 Rukun Warga (RW) yang tersebar di seluruh kelurahan.
banner 468x60

Cimahi, penasuara.com – Krisis air bersih bukan lagi sekadar cerita hantu di musim kemarau bagi warga Cimahi Selatan. Di wilayah ini, air bersih telah menjelma menjadi barang mewah yang harus ditebus dengan rupiah, bahkan jauh sebelum matahari terik membakar aspal di pertengahan tahun 2026.

​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau kali ini akan membentang lebih panjang hingga akhir tahun 2026, dengan puncak kekeringan dramatis pada Agustus hingga Oktober. Bagi Kota Cimahi, ini adalah ujian berat.

Advertisment
banner 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, ancaman krisis air ini membayangi setidaknya 312 Rukun Warga (RW) yang tersebar di seluruh kelurahan.

​Namun, jika bicara titik paling rapuh, mata kita harus tertuju pada bagian selatan kota: Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah. Tiga wilayah ini ibarat garis depan yang paling babak belur dihantam krisis.

​Paradox Cimahi Selatan: Basah Tak Terasa, Kering Jauh Sebelum Kemarau

Baca juga :  Akhir Pelarian Taufik Hidayat: Penyekap Kekasih Selama 3 Tahun di Cileunyi Resmi Diringkus Polisi

​”Di luar musim kemarau saja, masyarakat di Cimahi Selatan itu ada yang sudah mengalami kekeringan. Mereka harus membeli air bersih, dan begitu kemarau datang, pasokan dari tangki bantuan baru menjadi pemandangan rutin,” ujar Kepala Laboratorium Geodesi ITB, Heri Andreas.

​Mengapa Cimahi Selatan begitu rentan? Jawabannya ada pada kompetisi senyap di bawah tanah. Warga di kawasan ini mayoritas menggantungkan hidup pada sumur-sumur mandiri. Di saat yang sama, mereka harus “berebut” air dengan sektor industri yang menyedot fluida bawah tanah dalam skala masif.

​Data dari Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi menunjukkan potret yang mengerikan: muka air tanah di kawasan Bandung Raya, termasuk Cimahi, telah ambles sedalam 60 hingga 100 meter.

​Anatomi Kerusakan Akuifer Menuju 2050:

  • ​Lapisan Atas (Akuifer 1): Sudah tiris dan habis di batas kedalaman 50–100 meter.
  • ​Lapisan Menengah (Kedalaman 100–200 meter): .ai mengalami kerusakan masif karena pengeboran yang makin dalam demi mencari sisa-sisa air.
Baca juga :  Polsek Balige Lakukan Penanganan dan Evakuasi Penemuan Mayat di Tepi Pantai Danau Toba

​Jika pola konsumsi dan eksploitasi ini dibiarkan tanpa kendali, para ahli memprediksi Cimahi akan menghadapi titik nadir berupa kekeringan ekstrem pada tahun 2050 akibat rusaknya lapisan akuifer (lapisan batuan bawah tanah yang menahan air) secara permanen.

​Jebakan Eksploitasi Tanpa Sadar

​Krisis ini rumit karena pelakunya bukan cuma industri besar. Kelangkaan ini diperparah oleh respons masyarakat itu sendiri. Pengeboran sumur artesis komunal—yang niat awalnya mulia untuk mendistribusikan air ke warga yang kekurangan—justru ikut menguras tabungan air bawah tanah secara kolektif.

​Bahkan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat pun masih mengandalkan sumber air tanah untuk memenuhi pipa-pipa pelanggan. “Kompleksitasnya sangat luar biasa. Indikatornya jelas, penurunan air tanah kita sudah masuk zona merah,” tambah Heri.

​Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, membenarkan bahwa penurunan drastis muka air tanah ini membuat sumur-sumur warga dipastikan lumpuh saat kemarau mencapai puncaknya. Pola ini mengulang memori buruk kemarau panjang dua tahun lalu, di mana Melong, Utama, dan Leuwigajah menjadi wilayah terdampak paling parah dengan alasan yang sama: kegagalan sumber air bawah tanah akibat beban konsumsi yang overkapasitas.

Baca juga :  Izin Helen Night Mart Disorot, Tokoh Agama Kompak Menolak Meski Restoran dan Pertunjukan Seni Sudah Kantongi Legalitas

​Cimahi kini berpacu dengan waktu. Kemarau panjang 2026 adalah alarm dini. Jika regulasi pengetatan air tanah dan solusi alternatif air permukaan tidak segera dieksekusi, ramalan kering kerontang di tahun 2050 bisa jadi datang lebih cepat dari bayangan kita. (Red)

Catatan Redaksi

Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!