Sumba Barat Daya, penasuara.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (4/10) pagi.
Gempa yang awalnya tercatat berkekuatan Magnitudo 6,1 tersebut, setelah dilakukan proses pemutakhiran data, dipastikan memiliki kekuatan Magnitudo 5,9. Meskipun guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah, BMKG memastikan bahwa gempa bumi ini aman dan tidak memicu ancaman gelombang tsunami.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh BMKG, peristiwa alam tersebut terjadi pada pukul 05.55 WIB atau 06.55 WITA. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat yang berpusat di laut, tepatnya pada jarak 14 kilometer arah barat daya Kodi, Sumba.
Awalnya, parameter kedalaman gempa diinformasikan berada pada 10 kilometer dari permukaan laut, namun hasil analisis lanjutan menunjukkan bahwa hiposenter atau kedalaman pasti gempa ini berada di angka 30 kilometer.
Proses pemutakhiran data ini merupakan prosedur standar yang dilakukan seiring dengan masuknya data dari berbagai sensor seismik, sehingga memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai parameter gempa.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, memberikan penjelasan teknis terkait pemicu utama gempa yang mengejutkan warga di pagi hari tersebut. Menurutnya, gempa yang melanda wilayah Sumba Barat Daya ini diklasifikasikan sebagai gempa bumi dangkal.
”Hasil analisis BMKG, parameter gempa di Kodi 5,9 magnitudo dengan kedalaman 30 km. Dengan memperhatikan episenter, ini adalah jenis gempa dangkal akibat sesar aktif,” ujar Dr. Wijayanto dalam keterangannya.
Adanya pergerakan sesar atau patahan aktif di sekitar wilayah perairan Sumba tersebut memicu pelepasan energi seismik yang berujung pada getaran di permukaan tanah.
Dampak gempa bumi ini tidak hanya berpusat di episenter. Berdasarkan laporan tingkat guncangan di lapangan, getaran gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat yang berdomisili di wilayah Kodi. Selain itu, jangkauan getaran meluas hingga dirasakan di beberapa kabupaten tetangga. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Manggarai, hingga Kabupaten Manggarai Barat.
Pasca-gempa utama (mainshock), sistem pemantauan BMKG terus merekam adanya aktivitas kegempaan susulan (aftershock) yang terjadi di sekitar area episenter. Hingga pukul 06.50 WIB, BMKG telah mencatat setidaknya terdapat 26 kali gempa susulan dengan magnitudo yang bervariasi namun dalam tren yang cenderung mengecil.
”Hingga pukul 06.50 WIB ada 26 gempa susulan. Gempa dipastikan tidak berpotensi tsunami,” tegas Dr. Wijayanto.
Menyikapi rentetan gempa susulan tersebut, BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat di wilayah Pulau Sumba, Manggarai, dan sekitarnya untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh isu-isu palsu atau hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Masyarakat juga diminta untuk secara mandiri menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan gempa awal. Sebelum kembali memasuki tempat tinggal, warga sangat disarankan untuk memeriksa dan memastikan bangunan rumah mereka tidak memiliki kerusakan struktural yang dapat membahayakan keselamatan apabila sewaktu-waktu kembali terjadi gempa susulan. Pastikan informasi resmi terkait kebencanaan hanya diakses melalui kanal-kanal komunikasi terverifikasi milik BMKG.
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















