Maluku,penasuara.com-Di tengah persiapan Paskibra Kecamatan, muncul sosok luar biasa yang menyita perhatian karena ketekunan, kesederhanaan, dan tekad baja yang membara. Ia adalah Amus Anditiama Maray, siswa kelas 2 SMK Ina Hoiriwa, putra asli desa terpencil Tolemar, Kecamatan Wetar Barat, Kabupaten Maluku Barat Daya. Lahir dari pasangan Yohanes Maray dan Naomi,16 tahun silam, Amus kini menjadi contoh nyata semangat berjuang yang menginspirasi banyak orang di daerahnya.
Bagi Amus, mengikuti seleksi dan latihan Paskibra bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan batu loncatan berharga untuk meraih masa depan yang lebih baik. Di lapangan latihan, ia dikenal sangat telaten, patuh, dan serius menyerap setiap arahan serta ilmu yang disampaikan pelatih tanpa terkecuali. Semangat disiplinnya tampak nyata sejak hari-hari awal latihan. Pada hari kedua, saat rekan-rekannya belum hadir di lokasi, Amus sudah bangun pukul 05.00 WIT dan mulai pemanasan mandiri dengan berlari keliling lapangan. Sebelum teman-temannya tiba pukul 07.00 WIT, ia sudah berhasil mengelilingi lapangan sebanyak 21 kali dengan penuh semangat.

Ketika ditemui wartawan dan ditanya tentang cita-citanya, ia menjawab dengan suara lantang dan penuh keyakinan: “Siap, ingin menjadi Tentara!” Ketegasan dan semangat pantang menyerah yang dimilikinya jarang ditemukan pada remaja seusianya. Dengan rendah hati ia juga menyampaikan bahwa orang tuanya bekerja sebagai petani, dan tidak pernah merasa malu atau minder dengan latar belakang sederhana keluarga petani.
Saat ditanya mengenai gaya hidup dan pengaruh lingkungan sekitarnya, Amus dengan tegas menyatakan: “Siap, tidak merokok.” Remaja yang kini masih duduk di kelas 2 SMK Ina Hoiriwa ini memegang teguh prinsip hidup bersih dan teratur. Tekadnya sudah bulat: segera mengikuti seleksi penerimaan TNI begitu tamat sekolah nanti, demi membanggakan kedua orang tuanya serta mengangkat nama baik daerah kelahirannya.
Pesan tulus yang sering ia sampaikan menjadi dorongan kuat bagi generasi muda sekitarnya: “Kesuksesan bukan hanya milik orang yang berduit. Anak petani juga bisa meraih mimpi setinggi apa pun, asalkan mau berusaha sungguh-sungguh dan tak lupa berdoa kepada Tuhan.”
Kisah Amus Anditiama Maray membuktikan bahwa kemiskinan, keterpencilan, dan keterbatasan bukan penghalang keberhasilan jika dibarengi kemauan keras, kedisiplinan, dan keyakinan. Sosoknya kini menjadi inspirasi dan motivator alami bagi pemuda-pemuda Maluku Barat Daya untuk terus melangkah maju tanpa menyerah pada keadaan.
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















