Mojokerto, penasuara.com – Sorak gembira anak-anak bercampur cangkul dan tanah basah. Kamis, 25 Juni 2026, halaman SDN Japan, Kecamatan Sooko, Mojokerto, berubah jadi kebun mini. Ratusan siswa dengan seragam olahraga merah-hitam bahu-membahu menanam bibit pohon buah.
Ini bukan sekadar seremonial. Ini aksi nyata SDN Japan memperingati Hari Bumi 2026 dengan misi ganda: menghijaukan sekolah dan menanam karakter peduli lingkungan sejak dini. Bahkan, aksinya meluas sampai ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kecamatan Sooko.
Pagi itu suasana SDN Japan beda dari biasanya. Tidak ada bel masuk yang terburu-buru. Yang ada adalah barisan siswa membawa polybag berisi bibit mangga, jambu kristal, alpukat, dan pohon pelindung lokal seperti trembesi.
Didampingi guru dan tokoh masyarakat, satu per satu bibit dipindahkan ke tanah. Ada yang tanahnya belepotan di pipi, ada yang serius menyiram. Tapi semua tertawa.
“Kami sengaja pilih bibit buah, bukan cuma pohon hias. Biar anak-anak belajar proses. Hari ini nanam, disiram, dirawat. Beberapa tahun lagi buahnya bisa dipetik bareng-bareng di sekolah,” ujar Kepala SDN Japan di sela kegiatan.
Bagi sekolah, ini pelajaran hidup yang tidak ada di buku: tentang kesabaran, tanggung jawab, dan hasil dari kerja keras.
Yang bikin kegiatan ini beda dari
Rombongan siswa, guru, dan warga lanjut bergerak ke RTH Kecamatan Sooko. Di “paru-paru kota” Sooko itu, anak-anak diajak aksi bersih-bersih sampah plastik, lalu menanam bibit tambahan di area publik.
“Anak-anak harus paham, menjaga bumi itu tidak hanya di rumah atau sekolah. Fasilitas umum juga rumah kita bersama. Kalau RTH kotor dan gersang, yang rugi kita semua,” jelas Kepala Sekolah.
Di RTH, siswa tampak antusias bertanya ke guru: “Bu, ini pohon apa?”, “Kapan berbuahnya Bu?”. Interaksi langsung dengan alam jadi kelas paling hidup yang mereka dapat hari itu.
Pemilihan warna seragam olahraga merah-hitam punya makna: merah melambangkan semangat, hitam melambangkan tanah sebagai sumber kehidupan. Filosofi sederhana yang ditanamkan ke anak-anak.
Pemilihan bibit buah juga strategis. Selain fungsi ekologis untuk mereduksi polusi dan membuat udara Sooko lebih sejuk, pohon buah punya nilai ekonomi dan sosial jangka panjang.
Bayangkan 5 tahun lagi, siswa angkatan sekarang pulang ke almamater dan bisa petik jambu dari pohon yang dulu ia tanam sendiri waktu kelas 4 SD. Itu warisan, bukan sekadar tanaman.
Kegiatan ini tidak akan jalan tanpa gotong royong. Guru menyiapkan bibit dan materi edukasi. Tokoh masyarakat membantu menyediakan lahan dan alat. Orang tua siswa turut mendukung lewat donasi bibit.
Kerja sama ini jadi cerminan kuatnya ekosistem pendidikan di Desa Japan. Sekolah bukan menara gading, tapi bagian dari masyarakat.
“Kolaborasi ini penting. Anak-anak lihat langsung, kalau merawat bumi itu kerja tim. Bukan kerja satu orang,” kata salah satu guru pendamping.
Bagi SDN Japan, Hari Bumi bukan hanya tanggal di kalender.
Melalui gerakan kecil tapi konsisten ini, sekolah punya 3 harapan besar:
1. Menumbuhkan karakter peduli: Anak terbiasa buang sampah pada tempatnya, menyiram tanaman, dan merawat fasilitas umum.
2. Meningkatkan literasi iklim: Siswa paham fungsi pohon untuk udara bersih dan penangkal banjir.
3. Menginspirasi sekolah lain: Satu sekolah bergerak, bisa menular ke puluhan sekolah di Mojokerto.
“Harapan kami sederhana. Lulusan SDN Japan nanti jadi anak-anak yang kalau lihat sampah dipungut, lihat tanah kosong ditanami. Itu investasi masa depan yang paling hijau,” pungkas Kepala Sekolah.
Dengan tanah yang masih basah dan bibit yang baru tertanam, SDN Japan sudah menanam sesuatu yang lebih besar dari pohon: harapan untuk Bumi yang lebih lestari.
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















