Poso, penasuara.com – Berawal dari kegemarannya menggambar desain pakaian sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Herlina Marande kini menjelma menjadi salah satu desainer muda asal Kabupaten Poso yang berkomitmen mengangkat kembali warisan budaya Pamona melalui karya-karya fashion modern. Melalui brand kreatif yang didirikannya, INAYA Spirit of Padaya, perempuan berusia 25 tahun ini berupaya menjadikan motif-motif tradisional Poso tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Herlina Marande merupakan seorang digital illustrator, fashion designer, sekaligus pendiri INAYA Spirit of Padaya. Brand tersebut lahir dari semangat untuk meriset, melestarikan, serta memodernisasi warisan kain dan motif tradisional khas suku Pamona agar dapat dikenal dan digunakan oleh generasi masa kini.
Perempuan yang lahir di Desa Mayoa, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, pada 25 Januari 2001 itu mengaku bahwa ketertarikannya terhadap dunia fashion telah tumbuh sejak usia muda. Sejak SMP, ia gemar menggambar berbagai model pakaian yang menurutnya menarik. Namun, keseriusannya menekuni bidang tersebut semakin berkembang ketika ia mulai memanfaatkan teknologi digital seperti iPad dan aplikasi Procreate untuk mengubah ide-ide kreatifnya menjadi desain yang lebih profesional.
“Pada tahun 2023, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, saya mulai mengembangkan batik dengan motif khas Poso. Dari situ muncul gagasan untuk menghadirkan fashion yang mampu menjembatani warisan budaya lokal dengan selera generasi muda,” ujarnya.
Selain aktif mengembangkan brand fashion, Herlina juga berprofesi sebagai tenaga pendidik di SMKS Teknik Eklesia Tentena. Ia merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik Universitas Negeri Manado pada tahun 2023.
Di tengah kesibukannya sebagai guru, Herlina tetap meluangkan waktu untuk melakukan riset budaya, merancang motif, dan mengembangkan produk-produk fashion yang terinspirasi dari kekayaan tradisi Pamona. Baginya, fashion bukan sekadar industri kreatif, melainkan juga media untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurut Herlina, dorongan terbesar yang membuatnya mengangkat unsur budaya Poso dalam setiap karya berawal dari rasa bangga sekaligus keprihatinan. Ia melihat bahwa Kabupaten Poso memiliki kekayaan budaya dan filosofi yang sangat berharga, tetapi berpotensi terlupakan jika tidak diwariskan dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
“Budaya tidak boleh hanya tersimpan di museum atau buku sejarah. Saya ingin membawa budaya Poso ke ruang publik dan menjadikannya sesuatu yang bisa dipakai serta dinikmati dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia menilai bahwa motif tradisional merupakan bagian penting dari identitas suatu daerah. Dalam setiap garis dan bentuk motif tersimpan nilai-nilai kehidupan, sejarah, serta filosofi yang diwariskan oleh para leluhur.
“Jika motif tradisional hilang, maka kita juga kehilangan sebagian identitas kita sebagai masyarakat Poso. Menjaga motif ini berarti menjaga warisan budaya sekaligus kekayaan intelektual daerah,” tambahnya.
Dalam proses kreatifnya, Herlina banyak mengeksplorasi berbagai motif khas Pamona, di antaranya motif Petondu Baula dan Cidu. Selain itu, ia juga mengambil inspirasi dari bentuk-bentuk geometris pada kain kulit kayu tradisional atau bark cloth yang kemudian dikembangkan menjadi motif baru dengan sentuhan yang lebih modern.
Proses penciptaan desain diawali melalui digital sketching. Setelah itu, unsur-unsur tradisional dipadukan dengan konsep fashion kontemporer yang dekat dengan generasi muda. Menurutnya, kunci utama terletak pada pemilihan siluet dan potongan pakaian yang mengikuti perkembangan tren tanpa menghilangkan identitas budaya yang diusung.
Karena itu, berbagai desain yang dihasilkan INAYA banyak mengadopsi model-model modern seperti peplum, corset bodice, outerwear asimetris, hingga busana kasual siap pakai yang mudah dipadukan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Perjalanan Herlina dalam mengembangkan fashion berbasis budaya lokal dimulai dari langkah-langkah sederhana di media sosial. Melalui berbagai ilustrasi digital yang diunggahnya, ia mulai memperkenalkan ide-ide kreatif yang kemudian mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.
Ia mengaku titik balik terbesar dalam perjalanan kariernya terjadi ketika bertemu dengan sejumlah tokoh dan komunitas di Poso yang memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan karya-karyanya. Dukungan tersebut membuka jalan bagi transformasi desain digital menjadi produk batik yang dapat diproduksi dan dipasarkan secara nyata.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah mengubah stigma masyarakat, khususnya generasi muda, yang masih menganggap kain bermotif daerah identik dengan kesan tua, formal, dan hanya cocok digunakan pada acara adat.
“Meyakinkan pasar bahwa batik Pamona dapat tampil trendi, kasual, dan berkelas membutuhkan proses yang panjang. Dibutuhkan konsistensi dalam branding dan edukasi agar masyarakat melihat bahwa budaya juga bisa tampil modern,” jelasnya.
Namun, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Herlina mengaku menerima respons yang sangat positif dari masyarakat. Menurutnya, banyak anak muda yang mulai menunjukkan kebanggaan terhadap produk-produk lokal yang merepresentasikan identitas budaya daerah.
Dukungan dari komunitas, tokoh masyarakat, hingga publik figur di Sulawesi Tengah turut menjadi energi positif bagi perkembangan INAYA Spirit of Padaya. Hal itu semakin memperkuat keyakinannya bahwa warisan budaya lokal memiliki tempat yang penting di tengah masyarakat modern.
Salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanannya adalah ketika mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan di bidang fashion dan industri kreatif. Melalui kegiatan tersebut, ia tidak hanya mengembangkan kemampuan profesionalnya, tetapi juga memperoleh ruang untuk memperkenalkan karya-karya INAYA kepada khalayak yang lebih luas.
Baginya, momen paling membanggakan adalah ketika melihat hasil karyanya dikenakan dan diapresiasi oleh masyarakat.
“Setiap kali melihat karya saya dipakai oleh orang lain, saya merasa sangat bangga dan bersyukur menjadi bagian dari Poso. Daerah ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, dan motif Pamona adalah salah satu warisan berharga yang patut terus dilestarikan,” ungkapnya.
Herlina meyakini bahwa generasi muda memegang peranan penting dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah. Menurutnya, pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku, tetapi dapat diwujudkan melalui kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi digital.
“Anak muda harus berani mengekspresikan budaya melalui konten kreatif, fashion, musik, maupun usaha kreatif lainnya. Jangan malu menunjukkan identitas daerah, karena justru itulah yang membuat kita unik di mata dunia,” pesannya.
Ke depan, Herlina berharap ekosistem fashion berbasis budaya di Sulawesi Tengah dapat terus berkembang melalui sinergi antara desainer, perajin, komunitas, dan pemerintah daerah. Ia ingin melihat fashion khas Poso mampu berdiri sejajar dengan berbagai wastra ternama dari daerah lain di Indonesia.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, bersama INAYA Spirit of Padaya ia tengah mempersiapkan sejumlah proyek baru, termasuk pengembangan seri motif yang kaya akan filosofi budaya Pamona serta peningkatan kemandirian produksi.
“Saat ini kami sedang mempersiapkan produksi batik tulis dan batik cap secara mandiri. Selain menjaga kualitas dan eksklusivitas desain, kami berharap langkah ini dapat membuka lapangan kerja bagi talenta kreatif lokal dan memperluas pemasaran wastra khas Poso,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Herlina mengajak generasi muda untuk semakin mencintai budaya daerah dan menjadikannya sumber inspirasi dalam berkarya.
“Jangan pernah merasa budaya daerah kita kalah keren dengan budaya luar. Ketika kita bangga memakai, mempromosikan, dan mengemas budaya sendiri dengan cara yang modern dan berkualitas, maka dunia akan melihat nilai luar biasa yang kita miliki. Modern Heritage dari Poso sungguh luar biasa,” pungkasnya.
Di usia yang masih muda, Herlina Marande membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui museum atau ruang pamer. Melalui setiap motif yang ia kembangkan dan setiap karya fashion yang ia ciptakan, warisan budaya Pamona terus hidup, berkembang, dan menemukan tempatnya di tengah generasi masa kini.
(Martin)
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















