Turki, penasuara.com — Misteri panjang seputar Formasi Durupınar di dekat Gunung Ararat, Turki timur, kembali menjadi sorotan. Sebuah tim peneliti internasional yang menamakan diri Noah’s Ark Scans mengklaim telah menemukan bukti baru yang mereka yakini memperkuat dugaan bahwa formasi geologis berbentuk perahu tersebut adalah sisa-sisa Bahtera Nuh. Namun, klaim sensasional ini masih memicu perdebatan di kalangan ilmuwan dan pakar geologi.
Berbeda dengan pandangan arus utama yang menyebut situs tersebut sebagai bentukan alam akibat aliran lumpur, tim Noah’s Ark Scans menyatakan temuan terbaru mereka menunjukkan struktur buatan manusia.
Andrew Jones, pendiri organisasi tersebut, menyebut hasil pengeboran inti (core drilling) terbaru sebagai titik balik dalam dekade panjang penelitian mereka.
“Hasil kami menantang teori bahwa situs tersebut sekadar formasi geologi batu kapur padat yang dibentuk oleh gletser dan pelapukan, atau bentukan alam dari aliran lumpur,” ujar Jones dalam sebuah rilis media baru-baru ini.
Dalam laporannya yang menarik perhatian sejumlah media internasional, termasuk Daily Mail, Jones mengeklaim bahwa hasil pemindaian radar timnya menunjukkan anomali bawah tanah.
Anomali tersebut, menurut Jones, mengindikasikan adanya ruang, koridor, dan struktur berlapis yang ia sebut sejalan dengan deskripsi Bahtera Nuh berlantai tiga dalam catatan kitab suci.
Selain pemindaian radar, tim juga telah melakukan pengeboran inti di situs tersebut. Jones menggambarkan momen ketika mesin bor mereka tiba-tiba menghantam lapisan bawah tanah yang sangat keras hingga merusak mata bor. Ia menduga lapisan itu mungkin merupakan kayu yang telah membatu atau mengalami mineralisasi ekstrem.
“Kami telah menemukan material kaya organik yang saat ini sedang dalam proses uji laboratorium independen. Saya secara pribadi sangat yakin ini adalah Bahtera Nuh, dan itulah sebabnya kami melakukan pengujian yang paling ketat,” tegas Jones yang telah meneliti situs tersebut sejak 1997.
Masih Sebatas Klaim Sepihak
Meski tim peneliti terdengar optimis, klaim bahwa Formasi Durupınar telah “100 persen terkonfirmasi” sebagai Bahtera Nuh dinilai masih prematur oleh banyak pihak.
Sejauh ini, belum ada jurnal ilmiah peer-reviewed atau konsensus dari komunitas geologi dan arkeologi independen yang memvalidasi temuan tersebut.
Berbagai investigasi geologis independen sebelumnya telah berulang kali menyimpulkan bahwa bentuk menyerupai perahu sepanjang sekitar 157 meter itu terbentuk murni dari proses alam, terdiri dari campuran batuan vulkanik, tanah, dan lumpur, bukan lambung kapal kayu kuno.
Status Formasi Durupınar kini bergantung pada hasil pengujian laboratorium terhadap sampel inti yang diambil oleh tim Noah’s Ark Scans.
Hingga material tersebut terbukti secara ilmiah sebagai kayu purba hasil pengerjaan tangan manusia yang berusia ribuan tahun, gundukan di kaki Gunung Ararat ini akan tetap berada di persimpangan antara legenda alkitabiah dan fenomena geologi alam. (Red)
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















