Riyadh, penasuara.com — “Senjata makan tuan.” Pepatah ini tampaknya paling tepat untuk menggambarkan nasib strategi militer dan diplomasi Israel di Timur Tengah saat ini. Alih-alih berhasil mengisolasi Iran seperti yang direncanakan secara matang, Tel Aviv kini justru mendapati dirinya terkucilkan di panggung kawasan.
Sebuah analisis mendalam dari media global Foreign Policy membongkar bagaimana skenario Israel berujung kegagalan. Pada awalnya, eskalasi militer yang dipicu Israel—termasuk rentetan serangan udara ke wilayah Iran—bertujuan untuk menebar ketakutan.
Harapannya, negara-negara Teluk Arab akan panik dan akhirnya bersatu berlindung di bawah payung keamanan Israel untuk melawan “musuh bersama”.
Namun, kalkulasi itu meleset tajam. Respons balasan Iran yang sangat agresif, salah satunya dengan ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi ekonomi global, justru menjadi tamparan keras yang menyadarkan negara-negara Arab. Mereka mulai menyadari satu kenyataan pahit: bergantung pada sekutu Barat dan payung keamanan Amerika Serikat ternyata tidak bisa lagi diandalkan saat krisis kawasan benar-benar meledak.
Menghadapi risiko kehancuran ekonomi dan ancaman keamanan di depan mata, negara-negara raksasa Teluk seperti Arab Saudi langsung memutar setir secara radikal. Alih-alih ikut memusuhi, mereka kini justru memelopori jalur diplomasi untuk menarik Iran ke dalam sebuah pakta keamanan regional yang baru.
Kerangka kerja perdamaian ini berkiblat pada “Model Helsinki” dari era Perang Dingin di Eropa. Fokus utamanya adalah membangun kerja sama non-agresi antar-negara bertetangga, tanpa perlu lagi melibatkan campur tangan langsung dari Washington.
Sikap ini dipertegas oleh Perdana Menteri Qatar, yang secara terbuka menyatakan bahwa prioritas negara-negara Timur Tengah saat ini adalah membangun arsitektur keamanan bersama yang merangkul Teheran demi stabilitas jangka panjang.
Meskipun kesepakatan resmi hitam di atas putih belum diteken dan beberapa ibu kota negara Teluk masih menyimpan kewaspadaan terhadap Iran, para ahli menilai pergeseran arah angin geopolitik ini sudah berada di titik “tidak bisa kembali” (point of no return).
Peta kekuatan Timur Tengah kini sedang digambar ulang secara mandiri oleh kekuatan-kekuatan lokal. Perlahan tapi pasti, Iran mulai ditarik masuk ke dalam sistem stabilitas kawasan, sementara Israel justru ditinggalkan sendirian di luar lingkaran.
Kegagalan strategi isolasi ini mengirimkan pesan yang sangat jelas: bagi dunia Arab saat ini, diplomasi multilateral antar-tetangga adalah pilihan yang jauh lebih rasional dibandingkan opsi konfrontasi militer tanpa henti yang dipromosikan oleh Israel.
Catatan Redaksi
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan pemberitaan kami, Anda berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sanggahan atau koreksi tersebut dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp yang tertera pada Kontak Redaksi.















